siklus hidrologi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bumi
merupakan planet di tata surya yang mana permukaannya terdiri dari dua bentuk,
yakni daratan dan juga perairan . Bumi jika dilihat dari luar angkasa maka
warnanya akan seperti kelereng, yakni ada biru, putih, dan juga coklat. Biru
menandakan perairan, putih adalah ombak- ombaknya, dan coklat adalah daratan
yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia. Apabila kita melihat Bumi dari
kejauhan tersebut, akan tampak bahwa perairan lebih besar daripada daratan. Hal
itu berarti Bumi ini kaya akan sumber air. Sumber air di Bumi ini bermacam- macam, bukan
hanya samudera atau macam- macam laut, namun juga macam- macam danau, sungai ,
rawa, mata air ,dan lain sebagainya.
Air adalah jenis sumber daya alam
yang sangat vital di Bumi. Bukan hanya bagi manusia, namun juga bagi semua
makhluk hidup. Tanpa adanya air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup
lama. Makhluk hidup sangat membutuhkan air , bukan hanya untuk memenuhi cairan
di dalam tubuh saja, namun juga berbagai kepentingan lain. Untung saja air
temasuk sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Sehingga untuk mendapatkan
air kembali, kita tidak membutuhkan waktu bertahun- tahun lamanya seperti jika
barang tambang habis. Air sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui ini
mengalami suatu siklus. Siklus air ini
juga dikenal sebagai siklus hidrologi.
B.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian siklus hidrologi
2.
Untuk
mengetahui faktor pelestarian air
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Siklus Hidrologi
Siklus
hidrologi ini adalah salah satu dari 6 siklus biogeokimia yang berlangsung di
Bumi. Siklus hidrologi merupakan siklus atau sirkulasi air yang berasal dari
Bumi kemudian menuju ke atmosfer dan kembali lagi ke Bumi yang berlangsung
secara terus menerus. Karena bentuknya memutar dan berlangsung secara terus-
menerus inilah yang menyebabkan air seperti tidak pernah habis. Siklus ini
mempunyai peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup makhluk di Bumi.
Karena adanya siklus inilah ketersediaan air di Bumi bisa selalu terjaga. Dan
karena siklus hidrologi inilah keseimbangan ekosistem di Bumi bisa selalu
terjaga.
B. Tahapan-
tahapan Siklus Hidrologi
Sebuah
siklus pastilah mempunyai beberapa tahapan yang berangkai. Tahapan- tahapan
tersebut apabila tergabung antara satu dengan yang lainnya maka akan
terciptalah sebuah siklus. Dengan kata lain, siklus ini terjadi karena adanya
tahapan- tahapan yang saling berkaitan satu sama lain dan bentuknya memutar.
Siklus hidrologi ini setidaknya mencakup 9 tahap, yakni evaporasi, transpirasi,
evapotranspirasi, sublimasi, kondensasi, adveksi, presipitasi, run off, dan
infiltrasi.
Tahapan
pertama dalam siklus hidrologi ini adalah evaporasi. Evaporasi merupakan
istilah lain dari penguapan. Siklus hidrologi akan dimulai dari adanya
penguapan. Penguapan yang mengawali terjadinya siklus hidrologi adalah
penguapan dari air yang ada di Bumi, seperti samudera, laut, danau, rawa,
sungai , bendungan, bahkan di areal persawahan. Semua air tersebut akan berubah
menjadi uap air karena adanya pemanasan dari sinar matahari. Hal inilah yang
disebut dengan evaporasi atau penguapan.
Evaporasi
ini akan mengubah bentuk air yang semula cair menjadi uap air yang berwujud
gas. Karena menjadi wujud gas, hal ini memungkinkan bahwa gas tersebut dapat
naik ke atas (ke atmosfer) karena terbawa oleh angin. Semakin panas sinar
matahari yang diterima, maka akan semakin banyak air yang berubah menjadi uap
air, dan semakin banyak pula yang terbawa ke lapisan atmosfer Bumi.
Selain
evaporasi, ada bentuk penguapan lainnya yakni penguapan yang berasal dari
jaringan makhluk hidup. Penguapan yang terjadi di jaringan makhluk hidup ini disebut
sebagai transpirasi. Transpirasi ini terjadi di jaringan hewan maupun tumbuhan.
Sama halnya dengan evaporasi,
transpirasi ini juga mengubah air yang berwujud cair dari jaringan makhluk
hidup tersebut menjadi uap air. Uap air ini juga akan terbawa ke atas, yakni ke
atmosfer. Namun, biasanya penguapan yang terjadi karena transpirasi ini
jumlahnya lebih sedikit atau lebih kecil daripada penguapan yang terjadi karena
evaporasi.
Evapotranspirasi
ini merupakan gabungan dari evapotasi dan juga transpirasi. Sehingga dapat
dikatakan bahwa evapotranspirasi ini merupakan total penguapan air atau
penguapan air secara keseluruhan, baik yang ada di permukaan Bumi atau tanah
maupun di jaringan makhluk hidup. Dalam siklus hidrologi, evapotranspirasi ini
sangatlah mempengaruhi jumlah uap air yang ternagkut ke atas atau ke atmosfer
Bumi.
Tahapan
yang lainya adalah sublimasi. Jadi selain melalui proses penguapan, naiknya uap
air ke atmosfer ini juga terjadi melalui proses sublimasi. Sumblimasi merupakan
proses perubahan es di kutub atau di puncak gunung menjadi uap air, tanpa harus
melalui proses cair terlebih dahulu. Sublimasi
ini juga tidak sebanyak penguapan (evaporasi maupun transpirasi), namun meski
sedikit tetap saja sublimasi ini berkontribusi erat terhadap jumlah uap air
yang terangkat ke atmosfer. Dibandingkan dengan evaporasi maupun transpirasi,
proses sublimasi ini berjalan lebih lambat dari pada keduanya. Sublimasi ini
terjadi pada tahap sikulus hidrologi panjang.
Kondensasi
merupakan proses berubahnya uap air menjadi partikel- partikel es. Ketika uap
air dari proses evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, dan sublimasi sudah
mencapai ketinggian tertentu, uap air tersebut akan berubah menjadi
partikel-partikel es yang berukuran sangat kecil melalui proses konsendasi.
Perubahan wujud ini terjadi karena pengaruh suhu udara yang sangat rendah saat
berada di ketinggian tersebut.
Partikel- partikel es yang
terbentuk tersebut akan saling mendekati satu sama lain dan bersatu hingga
membentuk sebuah awan. Semakin banyak partikel es yang bersatu, maka akan
semakin tebal dan juga hitam awan yang terbentuk. Inilah hasil dari proses
kondensasi.
Adveksi
ini terjadi setelah partikel- partikel es membentuk sebuah awan. Adveksi
merupakan perpidahan awan dari satu titik ke titik lainnya namun masih dalam
satu horisontal. Jadi setelah partikel- partikel es membentuk sebuah awan yang
hitam dan gelap, awan tersebut dapt berpindah dari satu titik ke titik yang
lain dalam satu horizontal.
Proses adveksi ini terjadi karena
adanya angin maupun perbedaan tekanan udara sehingga mengakibatkan awan
tersebut berpindah. Proses adveksi ini memungkinkan awan akan menyebar dan
berpindah dari atmosfer yang berada di lautan menuju atmosfer yang ada di
daratan. Namun perlu diketahui bahwa tahapan adveksi ini tidak selalu terjadi
dalam proses hidrologi, tahapan ini tidak terjadi dalam siklus hidrologi
pendek.
Awan
yang telah mengalami proses adveksi tersebut selanjutnya akan mengalami
presipitasi. Presipitasi merupakan proses mencairnya awan hitam akibat adanya
pengaruh suhu udara yang tinggi. Pada tahapan inilah terjadinya hujan. Sehingga
awan hitam yang tebentuk dari partikel es tersebut mencair dan air tersebut
jatuh ke Bumi manjadi sebuah hujan. Namun, tidak semua presipitasi menghasilkan
air. Apabila presipitasi terjadi di daerah yang mempunyai suhu terlalu rendah,
yakni sekitar kurang dari 0ᵒ Celcius, maka prepitisasi akan menghasilkan hujan
salju. Awan yang banyak mengandung air tersebut akan turun ke litosfer dalam
bentuk butiran- butiran salju tipis. Hal ini dapat kita temui di daerah yang
mempunyai iklim sub tropis, dimana suhu yang dimiliki tidak terlalu panas
seperti di daerah yang mempunyai iklim tropis.
Tahapan
run off ini terjadi ketika sudah di permukaan Bumi. Ketika awan sudah mengalami
proses presipitasi dan menjadi air yang jatuh ke Bumi, maka air tersebut akan
mengalami proses run off. Run off atau limpasan ini merupakan proses pergerakan
air dari tempat yang tinggi menjuju ke tempat yang lebih rendah yang terjadi di
permukaan Bumi. Pergerakan air tersebut dapat terjadi melalui saluran- saluran,
seperti saluran got, sungai, danau, muara sungai, hingga samudera. Proses ini
menyebabkan air yang telah melalui siklus hidrologi akan kembali menuju ke
lapisan hidrosfer Bumi.
Proses
selanjutnya adalah proses infiltrasi. Air yang sudah berada di Bumi akibat
proses presipitasi, tidak semuanya mengalir di permukaan Bumi dan mengalami run
off. Sebagian dari air tersebut akan bergerak menuju ke pori- pori tanah,
merembes, dan terakumulasi menjadi air tanah. Sebagian air yang merembes ini
hanyalah sebagian kecil saja. Proses pergerakan air ke dalam pori- pori tanah
ini disebut sebagai proses infiltrasi. Proses infiltrasi akan secara lambat
membawa air tanah untuk menuju kembali
ke laut.
Setalah melalui proses run off
dan infiltrasi, kemudian air yang telah mengalami siklus hidrologi akan kembali
berkumpul ke lautan. Dalam waktu yang berangsunr- angsur, air tersebut akan
kembali mengalami siklus hidrologi yang baru, dimana diawali dengan evaporasi.
Dan itulah kesembilan dari tahapan siklus hidrologi.
C. Macam-macam
Siklus Hidrologi
Siklus
hidrologi yang tahapan- tahapannya telah dijelaskan di atas ternyata tidak
hanya terdiri atas satu macam saja. Siklus hidrologi ini terdiri atas beberapa
macam. Macam- macam siklus hidrologi ini dilihat dari panjang atau pendeknya
proses siklus hidrologi tersebut.
Berdasarkan
proses panjang dan pendeknya, siklus hidrologi ini dibagi menjadi 3 macam,
yakni siklus hidrologi pendek, siklus hidrologi sedang dan siklus hidrologi
panjang.
Siklus hidrologi pendek merupakan
siklus hidrologi yang tidak mengalami proses adveksi. Uap air yang terbentuk
melalui siklus hidrologi akan diturunkan mealui hujan yang terjadi di daerah
sekitar laut tersebut.
Siklus
yang selanjutnya adalah siklus hidrologi sedang. Siklus hidrologi sedang
merupakan siklus hidrologi yang umum terjadi di Indonesia. Hasil dari siklus
hidrologi sedang ini adalah turunnya hujan di atas daratan. Hal ini karena
proses adveksi akan membawa awan yang terbentuk ke atas daratan. Air laut yang
terkena pemanasan sinar matahari akan mengalami penguapan dan menjadi uap air.
Uap air yang sudah terbentuk mengalami proses adveksi karena adanya angin dan
tekanan udara, sehingga bergerak menuju ke daratan. Di atmosfer daratan, uap
air tersebut akan membentuk awan dan kemudian akan berubah menjadi hujan. Air
hujan yang jatuh di permukaan Bumi atau daratan akan mengalami run off, menuju
ke sungai dan kembali ke laut.
Siklus
yang selanjutnya adalah siklus hidrologi panjang. Siklus hidrologi panjang
merupakan siklus hidrologi yang umum terjadi di daerah beriklim sub tropis atau
di daerah pegunungan. Melalui siklus hidrologi panjang ini hujan tidak langsung
berbentuk air, namun turun dalam bentuk salju ataupun gletser terlebih dahulu.
Air laut yang terkena pemanasan sinar matahari akan mengalami penguapan dan
menjadi uap air. Uap air yang telah terbetuk tersebut mengalami proses
sublimasi Kemudian terbentukla awan yang mengandung kristal- kristal es Awan
mengalami proses adveksi dan kemudian bergerak ke daratan Awan akan mengalami
presipitasi dan turun sebagai salju . Salju akan terakumulasi menjadi gletser.
Gletser tersebut akan mencair
karena adanya pengaruh suhu udara dan membentuk aliran sungai. Air dari gletser
dan mengalir di sungai tersebut kemudian akan kembali ke laut.
D. Faktor yang mempengaruhi pelestarian air
Makhluk hidup yang ada di bumi ini
tidak dapat terlepas dari kebutuhan akan air, karena air merupakan kebutuhan utama
bagi proses kehidupan di bumi ini. Air nilainya begitu berarti bagi manusia.
Sekitar 70% berat badan manusia terdiri dari air. Darah mengandung 80% air,
tulang 25%, urat syaraf 75%, ginjal 80%, hati 70%, otot 75%. Manusia akan mati
bilamana kehilangan sekitar 15% dari berat badanya. Manusia boleh menahan lapar
untuk jangka waktu lama tetapi tidak dapat menahan haus (dahaga) untuk beberapa
jam karena dapat menyebapkan dehidrasi dan berakibat fatal.
Manusia mendapatkan air dari beberapa sumber air yang
tersebar di bumi, seperti air hujan, air permukaan (waduk, danau, sungai,
empang, telaga, kali, parit,dll), dan air tanah (sumur bor).
Melihat peran dan fungsi air yang
begitu vital bagi manusia, tentu kita tidak mengharapkan sumber-sumber air dari
segi kuantitas debitnya mengalami penurunan, dan dari segi kualitas mengalami
penurunan karena telah tercemar limbah, serta dari segi kontinuitas airnya
tidak tersedia secara berkesinambungan, dalam artian di musim penghujan ada air
sementara di musim panas airnya tidak ada sama sekali (kering).
Namun, kenyataannya pembangunan yang
dilakukan manusia selain memberi dampak positif juga memberi dampak negatif.
Ditakutkan dampak-dampak negatif yang timbul akibat adanya kegiatan pembangunan
akan mempengaruhi kelangsungan suatu sumber air. Misalnya, aktivitas perambahan
hutan di kawasan sekitar mata air akan berdampak pada penurunan debit
(kuantitas), limbah industri dan domestik yang tidak dikelola dengan baik akan
mencemari air tanah, polusi udara yang tinggi di kawasan perkotaan
mengakibatkan hujan asam,dll.
Menyadari adanya dampak-dampak
negatif yang timbul dari aktivitas pembangunan yang akan mempengaruhi
kelangsungan sumber air, maka dipandang perlu untuk melakukan upaya
perlindungan dan pelestarian sumber air. Upaya-upaya perlindungan sumber air
ditunjukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan
keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebapkan oleh daya alam, termasuk
kekeringan yang disebabkan oleh manusia.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Air adalah jenis sumber daya alam yang
sangat vital di Bumi. Bukan hanya bagi manusia, namun juga bagi semua makhluk
hidup. Tanpa adanya air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup lama.
Makhluk hidup sangat membutuhkan air, bukan hanya untuk memenuhi cairan di
dalam tubuh saja, namun juga berbagai kepentingan lain. Untung saja air temasuk
sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
Siklus hidrologi merupakan siklus atau
sirkulasi air yang berasal dari Bumi kemudian menuju ke atmosfer dan kembali
lagi ke Bumi yang berlangsung secara terus menerus. Karena bentuknya memutar
dan berlangsung secara terus- menerus inilah yang menyebabkan air seperti tidak
pernah habis. Siklus hidrologi ini setidaknya mencakup 9 tahap, yakni
evaporasi, transpirasi, evapotranspirasi, sublimasi, kondensasi, adveksi,
presipitasi, run off, dan infiltrasi.
B. Saran
Sebaiknya kita selaku mahasiswa lebih
mendalami dan memahami seperti apa proses siklus hidrologi itu dengan cara
lebih banyak membaca referensi yang memuat tentang siklus hidrologi
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.ebiologi.com/2016/03/siklus-hidrologi-pengertian-proses.htmlhttp://novikhrnisa.blogspot.com/2013/04/Faktor-kelestarian air.html
Komentar
Posting Komentar